Minggu, 02 November 2014

musium

Aku bagai musium gantung.
Menyimpan berbagai kenangan masa lampau, sedang tak seorang pun mengunjunginya.
Aku bagai musium, aku manusia patung.
Mengumpat dalam hati, memaki diri, setan apa aku ini? Menyimpan semuanya sendiri.

Sedang aku sendiri tak pernah memungut kenangan itu di beranda
Sedang aku sendiri tak dapat membedakan pintu depan dan pintu belakang rumah kita.

Tapi tak apalah. Aku manusia, menjelma patung.

Malam menjelma arjuna, dingin merundunginya
Ia berjalan mengunjungi rumah-rumah, tak jarang ku lihat ia meniduri anak kepala desa, menjelma dewi bulan katanya. Ia hanya mampir menghangatkan tubuhnya

Seperti aku, meminta kehangatan tiap kali menatapnya.
Tapi tak apalah. Dia hanya malam, menjelma khayalan

Cinta menjelma kamu, atau kamu menjelma cinta
kata malam kau lah yang memungut benda-benda antik, kenangan-kenangan pahit, kisah-kisah romantis, lukisan-lukisan cumbu, foto-foto tubuh, tanah basah, dan  air mata di beranda lalu kau simpan padaku, menjadikan aku musium pribadimu

Di paruh waktu, ketika dewi bulan melahirkan anak malam
aku menjelma kamu,

Tapi tak apalah, cinta memang seperti kau.
Melahirkan anak-anak malam dan anakku, yang potret tubuh mereka kau abadikan didalam musiummu.
AKU.

Tidak ada komentar: