Senin, 29 September 2014

rabu biru

Ada goresan-goresan sajak di atas meja, terluka.
Ada rautan pensil bertebaran di bawah kursi, sepi
Ada lukisan-lukisan miring di kamar mandi, bertanya "hampa?"

Kau berlari ke hutan, sesaat aku mengeluhkan suara -suara kesunyian.
"Mereka datang" katamu.
Tapi kita berdua diam. Kita terpaku dalam angan. Dan kau lari kearah berlawanan

Ada hujan di jalan belokan didalam hutan yang sering kita jumpai kala kemarau.
Aku bertanya padanya "hujan, apakah kau masih melihat embun yang di tinggalkan kekasihku seperti biasanya?"
Hujan malah bertambah deras. Ia tak perduli pdaku, ia tak menghiraukan dingin disekujur tubuhku.

Setelah itu, jalan yang biasa kita lewati setelah hujan, menghilang.
berikut kau yang gembira menyambut sepi

Dan hujan tetap membasahiku dalam ngeri perpisahan, seolah ia mengerti, seolah ia ingin merasakan tangisku. Seolah ia pula menghapusnya.
Seolah ia membasahi hatiku.

Rabu.